Sabtu, 03 April 2010

KHAIBAR : KEMENANGAN PASUKAN MUHAMMAD




Ratusan anak remaja Palestina melemparkan batu ke pasukan Israel. Mereka menggunakan ketapel-ketapel kecil. Sedangkan yang dihadapi mereka adalah pasukan bersenjata mesin -yang ringan dan yang berat. Mereka menyerang sambil berlari. Di sela-sela takbir mereka berteriak, "Khaibar, Khaibar, ya Yahud...inna jaisya Muhammad saya`ud (Khaibar, Khaibar, hai Yahudi. Tentara Muhammad akan kembali). Teriakan itu adalah semboyan Intifadhah -perlawanan Dawud melawan Jaluth. Ketika tentara ahudi mematahkan tangan-tangan kecil itu, mereka berteriak, "inna jaisya Muhammad saya`ud." Remaja-remaja Muslim Palestina itu mengenang suatu peristiwa, ketika pasukan Rasulullah SAW menaklukkan benteng Yahudi di Khaibar pada tahun ketujuh Hijri. Khaibar adalah koloni Yahudi yang terletak di sebelah timur laut Madinah. Disinilah Bani Nadhir berlindung setelah mereka gagal menimbulkan kekacauan di Madinah. Dari sini pula orang-orang Yahudi menghasut kabilah-kabilah Arab termasuk orang-orang Makkah untuk menerang Madinah dalam perang Ahzab (waktu itu banyak kabilah bersekutu untuk mengepung dan memboikot Madinah). Ketika perang ini gagal, orang ahudi menjadika Khaibar sebagai markas untuk melakukan gerakan infiltrasi dan teror. Abul Haqiq, pemimpin mereka, mengahsut Bani Fizarah untuk merampok unta-unta milik orang Madinah pada bulan Rabi`ul Awwal. Pada bulan berikutnya, Bani Ghathfan melakukan hal yang sama -selain mermpok, mereka membunuh dan melukai banyak penduduk desa di sekitar Madinah. Pada bulan Syawal tahun yang sama, berdasarkan rencana yang disusun Yahudi Khaibar, Bani Gathfan bersiap-siap menyerang Madinah lagi. Rasulullah SAW mendengar rencana itu. Dengan pasukan berkekuatan 1600 orang, 200 orang diantaranya berkuda, Nabi Muhammad SAW berangkat menuju Khaibar. Pasukan Nabi menaiki bukit-bukit yang terjal. Sedangkan udara panas menyengat. Tengah malam mereka sampain di Raji`, tempat yang berada di antara Khaibar dan Bani Gathfan. Paginya, ketika orang-orang Yahudi hendak berangkat ke ladang-ladang mereka, mereka terkejut melihat pasuka Rasullah SAW. Mereka berlari kembali memasuki benteng-benteng mereka sambil berteriak, "Pasukan Muhammad sudah datang!"

Khaibar Diserang

Lembah Khaibar diperlengkapi dengan sepuluh benteng yang kukuh, berdiri di puncak bukit-bukit batu yang terjal. Benteng-benteng yang paling kuat ada empat : Al Qamus, Al Watibah, Al Watih dan Sulalim. Namun satu demi satu benteng tersebut direbut oleh pasukan Rasulullah SAW. Orang-orang Yahudi akhirnya berkumpul di benteng Al Qamus, benteng yang paling kuat, menjulang di atas bukit batu yang tinggi. Di situ tinggal pemimpin Yahudi, Kinanah bin Rabi`, cucu Abul Haqiq.
Melihat benteng Al Qamus Nabipun kemudian berdo`a supaya kaum Muslimin diberikan kekuatan untuk menaklukkannya. Di atas sebuah batu yang disebut Mansilah, Nabi Muhammad SAW melakukan shalat setiap harinya. (Kelak di atas batu yang sama, ummat Islam membangun Masjid untuk mengenang rasul mereka). Ketika Nabi saw sakit kepala, bendera diserahkan kepada Abu Bakar. Abu Bakar mencoba menyerang Al Qamus, tetapi terpaksa mundur. Benteng itu sukar ditembus. Kemudian Nabi SAW menyerahkan bendera kepada Umar Bin Khattab. Pasukan Umar juga dipukul mundur. Sementara itu perbekalan hampir habis. Orang-orang Yahudi pun sudah menghancurkan ladang-ladang mereka agar tidak bisa dimanfaatkan kaum Muslimin. Menyaksikan kegagalan demi kegagalan itu, Nabi Muhammad memanggil para sahabatnya. Beliau bersabda, "Besok aku akan menyerahkan bendera kepada seseorang yang selalu menyerbu dan tidak pernah mundur, yang mencintai Allah dan Rasulnya dan dicintai Allah dan Rasul-Nya. Allah akan memberikan kemenangan melalui tanganya." Malam itu para sahabat tidak tidur, memikirkan siapakah gerangan orang yang mendapat kehormatan memegang bendera esok hari. Umar berkata, "fa ma ahbabtu l-imaarata Qotthu Qobla yaumaidzin." (Belum pernah aku mengharapkan kepemimpinan seperti hari itu). Buraidah, Sahabat Rasulullah SAW yang lain berkata, "setiap orang yang dekat dengan Rasulullah SAW waktu itu mengharapkan memegang bendera." Esok harinya, pagi hari sekali sahabat sudah berkumpul di sekitar Rasulullah SAW. Semua menunggu siapa gerangan yang akan ditunjuk oleh Nabi SAW. Semua mata terpusat kepada Nabi. Setiap telinga siap mendengar ucapan Nabi. Kemudian terdengarlah Nabi bersabda, "Mana Ali Bin Abi Thalib?" orang-orang menyahut, "Ia sakit mata ya Rasulullah." Nabi SAW menyuruh Salmah bin Akwa` memanggil Ali. Ali datang dipapah Salmah. Ia sama sekali tidak sanggup membuka matanya. Badannya panas karena demam. Nabi SAW mengusapkan tangannya yan mulia ke mata Ali seraya berdo`a, "Ya Allah hilangkan sakit mata, panas dan dingin dari Ali. Bantulah ia menghadapi musuh-musuhnya. Berikan kemenangan dari kedua tangannya, karena ia hamba-Mu yang mencintai-Mu dan mencintai rasul-Mu. Ia penyerbu yang tak pernah mundur (karrar ghairu farrar)." Berkat doa tersebut, mata Ali sembuh seperti tidak pernah sakit sebelumnya. Bahkan dalam satu riwayat, sejak saat itu Ali tidak pernah kepanasan di musim panas dan tidak pernah kedinginan di musim dingin. Kemudian, Nabi SAW menyerahkan bendera pasukan kepada Ali. Nabi juga menyerahkan pedang Dzulfiqar kepadanya. Ali bbertanya, "Ya Rasul Allah, apakah aku harus memerangi mereka sampai mereka menjadi seperti kita?" "Berangkatlah," kata Rasulullah SAW. "Datangi tempat mereka, serulah mereka kepada Islam, demi Allah sekiranya Allah memberikan petunjuk kepada seseorang melalui usahamu, itu lebih baik dari apapun yang paling berharga di dunia ini." Ali pun berangkat dengan doa Rasul dan kaum Muslimin. Ia menaiki bukit dan menancapkan bendera pasukan Muhammad SAW. Ketika tentara Yahudi menyerang, Ali dan pasukannya menambutnya dengan gagah berani. Ketika Al Harits menantangnya duel (mubarazah), Ali mengakhirinya dalam waktu yang sangat cepat. Al Harits, jago pedang itu tersungkur. Kakaknya, Marhab...maju ke depan. Tubuhnya besar, kukuh, seperti raksasa. Ia memakai berlapis-lapis baju besi. Kepalanya tertutup topi baja yang diikat dengan dua buah serban. Di tengah-tengah serbannya ia menyimpan batu besar untuk melindungi kepalanya dari pedang musuh. Ia membawa dua bilah pedang dan sebuah tombak. Ali meloncat, pedang dan pedang bertemu. kilatan api memancar dari dua senjata yang beradu. Tiba-tiba terdengar "ledakan" dahsyat. Pedang Ali membelah batu di atas kepala Marhab, masuk jauh sampai ke gerahamnya dan memisahkan kepala Marhab menjadi dua. Takbirpun membahana..."Allahu Akbar". Orang-orang Yahudi ketakutan. Mereka memasuki benteng. Ketika Ali menyerbu, seorang Yahudi berhasil memecahkan perisainya. Ali mendobrak dan menjebol pintu benteng, ia kemudian menggunakan pintu itu sebagai tamengnya. Ketika pasukan Muslim tertahan di depan pari yang mengitari benteng tersebut, Ali menggunakan pintu itu sebagai jembatan. Tepat seperti yang dinubuatkan oleh Rasullah SAW. Benteng Khaibar jatuh ke tangan Umat Islam. Orang-orang Yahudi bertekuk lutut.   Ketika Ali kembali, Nabi memeluk dan mencium dahinya, seraya mengatakan Allah dan Rasul-Nya meridlai perjuangan Ali. Pemuda Ali menangis, menangis bahagia karena telah memberikan sumbangan paling berharga bagi kemenangan Islam.
Lebih dari seribu tahun sesudah itu, pemuda-pemuda Palestina mendengar kisah ini. Mereka bangkit. Mereka menuntut hak-hak mereka di tengah-tengah benteng Yahudi terbesar abad ini -yakni Israel-. Mereka berjuang bukan lagi karena semangat kebangsaan. Semboyan mereka bukan lagi kemegahan bangsa Palestina. Semboyan mereka semboyan Islam. Ya...Islam harus mampu menundukkan dan menjebol benteng "Khaibar" saat ini, Israel dengan segala keangkuhan, kesombongan dan keserakahannya. "Khaibar, Khaibar ya Yahud Inna Jaisya Muhammad Saya`ud".

Tidak ada komentar:

Posting Komentar