
Anda tentu tahu atau setidaknya pernah mendengar legenda kisah cinta Qays dan Laila (Laila Majnun). Al kisah, sesepuh Bani Murrah mengaku sangat tertarik dengan kabar kisah cinta Qays Al Majnun. Qays Al Majnun saat itu masih hidup. Tapi ia sudah gila.
Lelaki tua Bani Murrah itu mendatangi perkampungan Bani Amir di Nejd. Ia bertanya ke sana ke mari mengenai rumah tempat tinggal Qays Al Majnun. Di rumah itu, seorang lelaki tua menyambutnya dengan hangat. Ia adalah ayah Qays Al Majnun. Ia tinggal bersama sama saudara saudara Qays Al Majnun. Banyak hewan ternak di sekitar rumah itu ; kambing dan onta.
Lelaki Bani Murrah itu menanyakan perihal Qays Al Majnun kepadanya. Kontan seisi rumah menangis tersedu-sedu. Lalu ayah Majnun yang sudah tua renta itu bergumam :
"Demi Allah dia itu buah hatiku dan anak yang paling aku sayangi dibanding mereka ini. Ia tergila-gila kepada seorang gadis kampung ini. Gadis itu juga sangat mencintainya. Meskipun hal itu sudah menjadi perbincangan orang ramai, tapi ayah gadis itu enggan mengawinkannya dengan Qays. Ia malah mengawinkannya dengan pemuda lain.
Anakku jadi gila gara-gara perkawinan ini. Ia hidup tak tentu arah di padang pasir. Ia meraung-raung karena cekam kerinduan terhadap gadis itu. Kami kemudian memasungnya. Kami ikat Qays. Tapi, ia malah terus menggigit lidah dan bibirnya dengan keras. Kami terpaksa melepaskannya, kami takut lidah dan bibirnya terputus."
"Kami biarkan dia pergi menggila di padang pasir. Di padang yang panas itu, ia hidup liar layaknya binatang. Kami mengiriminya makanan ke padang itu. Setiap hari, kami meletakkan makanan di tempat yang bisa dilihat Qays. Bila pembawa makanan sudah pergi, Qays menghampiri makanan itu, lalu melahapnya, " cerita Ayah Qays sedih.
"Lalu di mana Qays sekarang berada?" tanya lelaki Bani Murrah kepada ayah Qays. Mereka kemudian menyuruh lelaki Bani Murrah itu menemui seorang pemuda. Konon, pemuda itu sangat akrab dengan Qays Al Majnun. "Qays menolak bertemu dengan siapapun, kecuali dengan pemuda ini. Dia satu-satunya orang yang menulis dan menghafal sajak-sajak cinta dari Qays." cerita mereka.
Kemudian lelaki Bani Murrah itu menemui pemuda tersebut dan memintanya untuk mengantar menemui Qays. "Kalau yang kau inginkan sajak-sajak Qays, seluruh sajaknya sampai yang terbaru -hari kemarin- berada padaku. Dan, besok aku akan menemuinya kembali. Bila besok ia juga menggubah sajak, aku akan menyampaikan kepadamu," sahut pemuda itu.
"Maksudku, aku ingin kau mengantarku menemuinya," sambung lelaki Bani Murrah lagi.
"Kalau aku bersamamu, jika ia nanti lari saat melihatmu, aku khawatir ia juga akan menjauh saat melihatku. Dan ia tidak akan menggubah syair lagi," kata si pemuda. Lelaki Bani Murrah itu terus memaksanya tempat majnun berada saat ini.
"Carilah ia di padang ini. Bila kau melihatnya, mendekatlah. Tunjukkan muka bersahabat. Jangan sampai engkau tampak khawatir, Qays bisa mengancammu dengan lemparan. Jangan sampai kau tampak takut gara-gara dia. Lalu duduklah dan jangan memandangnya. Cuma sesekali perhatikan gerak-geriknya. Bila ia sudah terlihat tenang, senandungkan syair asmara. Bila kau hafal salah satu sajak Qays bin Dzuraij (penyair seperiode dengan Qays al Majnun yang juga tergila-gila), senandungkan syair itu di hadapannya. Majnun sangat mengagumi syair-syairnya," demikian saran si pemuda.
Hari itu, lelaki Bani Murrah tersebut mencarinya sampai sore. Kemudian ia menemukan Al Majnun sedang duduk di atas gundukan pasir. Ia sedang menulisi pasir itu dengan tangannya. Dihampirinya Qays dengan raut muka yang bersahabat. Meski demikian, begitu tahu ada yang menghampirinya Qays lari menjauh sembari mengambil beberapa batu disampingnya. Lelaki Bani Murrah itu berbalik, Qays mulai diam dan duduk, selanjutnya Qays tampak semakin tenang. Ia kembali menulis di atas pasir. Lelaki Bani Murrah itu pun memandangnya dan menyapa, "betapa indah gubahan sajak Qays bin Dzuraij" :
"Hai gagak bintik, berkisahlah....apa yang kau tahu perihal Lubna" (Kekasih Qays bin Dzuraij).
"Bila tidak, semoga sayapmu patah saat kau terbang. Dan kau selalu bersama musuh-musuh di sekitar kekasihmu. seperti aku di samping Lubna, selalu!"
Spontan, Qays Al Majnun menghampirinya dengan derai air mata dan isak tangis yang mengharukan. Dengan suara parau ia bergumam :
"Ya...demi Tuhan! Tapi, aku bisa menggubah lebih bagus dari itu."
"Hatiku saat Laila menjauh dibawa pergi,
Laksana burung terpasung jerat...
Sekuat tenaga, ia berupaya melepaskan diri...
Namun, sayapnya lekat tersangkut jala..."
Syahdan, adu sajak itu terus berlangsung. Dan, hari itu adalah hari-hari terakhir Qays al Majnun. Kisahnya panjang dan sangat mengharukan, seperti disaksikan dengan mata kepala oleh lelaki tua dari Bani Murrah itu. Sampai akhirnya seekor rusa melintas cepat. Dan, Majnun berlari menyusulnya. Ia menghilang dan lelaki tua itu kembali ke perkampungan.
Empat hari usai pertemuan di padang duka itu, tubuh majnun ditemukan tergeletak di lembah berbatu. Di lembah terjal, lelaki tua itu menemukannya mati mengenaskan di atas kerikil-kerikil tajam, setelah beberapa hari mengikutinya dan mencarinya ke mana ia pergi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar