Minggu, 04 April 2010

Bayt al-Hikmah ; Lembar Peradaban Yang Terbakar






Sebuah istana berdiri megah tidak terlalu jauh dari Karkh, bagian penting kota Baghdad. Istana Al-Khuld -begitulah istana itu disebut- merupakan pusat pemerintahan Khalifah Harun Al- Rasyid (768-808 M) dari dinasti Abbasyiyah.

Meski merupakan pusat pemerintahan, aktivitas politik tidak menjadi corak tunggal yang mendominasi istana Al-Khuld. Pada salah satu bagiannya, sebuah ruangan besar penuh dengan beribu-ribu jilid buku. Diskusi, penelitian dan penyalinan naskah, ikut memberi warna lain dari berbagai aktivitas keistanaan.

Ruangan besar tersebut memang disediakan oleh Khalifah Harun Al- Rasyid khusus penyimpanan khazanah buku dan pusat kegiatan ilimiah di kota Baghdad. Al-Rasyid adalah pemimpin politik yang gemar mengkoleksi buku-buku. Koleksi bukunya banyak yang merupakan hasil terjemah dari buku-buku yang didapatkan melalui persinggungan pemerintahannya dengan kerajaan Romawi.

Ruang buku istana begitu masyhur. Ada yang menyebutnya Bayt al-Hikmah, adapula yang menyebutnya Khizanat al-Hikmah (tempat penyimpanan hikmah). Awalnya Bayt al-Hikmah hanyalah ruang buku istana, tetapi dalam perkembangannya berubah menjadi perpustakaan umum.

Perpustakaan Bayt al-Hikmah banyak menyedot pengunjung dari berbagai wilayah. Ia mempunyai pengaruh besar dalam membangkitkan minat ilmiah umat Islam ketika itu. Setiap saat tampak lalu lalang para ilmuwan yang mengadakan studi. Debat, diskusi, penelitian, penerjemahan dan penulisan buku adalah pemandangan yang senantiasa menghiasi ruangan di Bayt al-Hikmah.

Konon, al-Rasyid mengangkat orang-orang khusus untuk mengelola perpustakaan Bayt al-Hikmah. Masing-masing pustakawan memiliki tugas berbeda. Ada yang bertugas sebagai penerjemah, penulis naskah dan tugas-tugas kepustakaan lainnya.

Al-Rasyid mengangkat Yuhana bin Masawih sebagai penerjemah di Bayt al-Hikmah. Yuhana adalah seorang Nasrani yang mempunyai keahlian menterjemahkan naskah-naskah dari bahasa Yunani ke dalam bahasa Arab. Di ruang buku istana, Ia menerjemahkan berbagai buku kedokteran yang didapat dari kota Ankara dan Amuria semasa penaklukan terhadap wilayah-wilayah Romawi. Dalam menjalankan tugasnya Yuhana dibantu oleh beberapa orang Katib (penulis naskah). Para katib selalu berada disamping Yuhana. Mereka sibuk menulis kalimat demi kalimat yang dilontarkan Yuhana ketika menterjemahkan sebuah buku.

Yuhana menduduki jabatan sebagai kepala penerjemah di Bayt al-Hikmah. Termasuk dalam timnya ini adalah Ibnu Nubikhat yang berkebangsaan Persia. Ibnu Nubikhat bertugas menterjemahkan buku-buku berbahasa Persia ke dalam bahasa Arab.

Di masa pemerintahan Al Ma`mun, Bayt al-Hikmah berkembang pesat. Sebagaimana Harun Al Rasyid, Al Ma`mun -penggantinya-, memiliki komitmen yang kuat dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Selam berkuasa Al Ma`mun memberikan perhatian besar terhadap perkembangan dan kemajuan Bayt al-Hikmah. Ia mengadakan kerjasama dengan para penguasa Romawi untuk mendapatkan buku-buku kuno dari kerajaan itu. Awalnya Romawi sempat menolak permintaan tersebut, namun berkat kegigihan Al Ma`mun, penguasa Romawi akhirnya mengizinkan para ilmuwan Islam mengadakan penelitian dan pelacakan atas berbagai khazanah Romawi kuno.

Al Ma`mun mengutus tim khusus untuk melaksanakan tugas tersebut. Anggota tim diantaranya adalah Silm, Al Hajjaj bin Mathar, Yuhana bin Masawih dan Ibnu Bithriq. Dari Romawi mereka mengangkut berbagai buku penting. Untuk kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Arab

Pelacakan khazanah Romawi kuno diantaranya dilakukan di Siprus, konstantinopel dan berbagai kota penting Romawi lainnya. Di Siprus, buku-buku filsafat yunani ditemukan di sebuah rumah kosong. Buku-buku itu kemudian dikumpulkan dalam sebuah almari khusus di Bayt al-Hikmah. Al Ma`mun mempercayakan pengelolaan buku-buku dari Siprus tersebut kepada Sahl bin Harun (seorang juru tulis di Bayt al-Hikmah) untuk diterjemahkan dan disalin Ulang.

Bayt al-Hikmah dikelola layaknya perpustakaan modern. Koleksi buku diklasifikasi menurut isinya. Masing-masing bagian koleksi, mempunyai pengelola dan pengawas. Klasifikasi koleksi Bayt al-Hikmah meliputi : fisika, filsafat dan logika, astronomi, agraria dan pertanian, matematika dan teknik, musik, kimia dan lain-lain.

Selain seksi pengelola pada masing-masing bagian buku, Bayt Al Hikmah memiliki seksi pelayanan. Mereka bertugas menyediakan kebutuhan para Ilmuwan dan pelajar yang menginap di sana. Disamping itu, mereka juga bertugas memberi pelayanan buku, mulai dari penulisan naskah sampai penyampulan.

Bayt al Hikmah pada masa Al-Ma`mun betul-betul menjelma menjadi pusat ilmu pengetahuan dunia. Koleksi bukunya tidak hanya berasal dari Yunani dan Persia. Tapi ada pula buku-buku berbahasa Sabskerta, Suryani, Kaldan, India dan Qibthy. Buku-buku dari berbagai Bahasa tersebut sebagian besar telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Di situ tersimpan Khazanah berbagai peradaban dunia. Mulai dari lembah Tigris dan Euphrat hingga Nil, Indus, India serta Yunani.

Bayt al Hikmah lebih mirip sebagai pusat pendidikan dan ilmu pengetahuan daripada sekedar perpustakaan biasa. Di situ disediakan ruangan khusus untuk studi dan penelitian, ruang khusus mengarang dan menterjemah, ruang khusus dialog dan diskusi serta observatorium perbintangan.

Bayt al Hikmah, Nama dalam sejarah

Bayt al Hikmah adalah nostalgia indah umat Islam. Nadi ilmu pengetahuan berdenyut kencang dari gedung-gedungnya yang asri. Ia terus menjadi pusat pencerahandunia dari masa ke masa, wajah lain ang molek di tengah aktivitas dan kesibukan politik saat itu.

Tahun 1258 M, Langit hitam pekat oleh asap. Tahun itu tahun kelabu bagi Baghdad, Islam dan dunia ilmu pengetahuan. Pasukan Tartar di bawah pimpinan Hulagu Khan menyerbu Baghdad. Mereka menyerbu dengan kecepatan dan keganasan yang belum pernag ada dalam sejarah penaklukan. Baghdad hancur lebur dan luluh lantak.

Perpustakaan Bayt al Hikmah pun tidak luput dari penghancuran. Ikon masa keemasan Islam itu dibakar oleh pasukan Tartar. Buku-bukunya banyak yang dibakar dan dibuang ke sungai Euphrat dan Tigris bersama ribuan mayat korban perang dan pembantaian oleh pasukan Tartar. Asap mengepul hitam memenuhi angkasa kota Baghdad akibat dari gedung-gedung dan buku-buku yang dibakar. Sungai Tigris dan Euphrat berubah menjadi sungai darah dan tinta.

Tinta emas pengetahuan Islam terus meluntur. Dan lembar-lembar peradabannya pun terus terbakar. Akankah Islam kembali menemukan hikmah dan peradabannya yang hilang? Wallahu a`lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar