Keberadaan sebuah Masjid di tengah-tengah sebuah komunitas masyarakat Muslim adalah suatu hal yang amat penting. Mengingat Masjid disamping sebagai sebuah tempat ibadah dan tempat pengembangan pendidikan Islam dan dakwah, Masjid juga berfungsi sebagai simbol eksistensi masyarakat Muslim di wilayah tersebut. Tidak terkecuali bagi masyarakat Muslim di desa Sukodono, sekitar lima kilo meter sebelah tenggara Jepara Jawa Tengah.
Berawal dari kesadaran akan betapa pentingnya keberadaan sebuah Masjid, maka pada sekitar tahun 1967 berkat lobi dan pendekatan yang dilakukan oleh Madikun (seorang warga desa Sukodono, yang kelak dikenal sebagai salah satu tokoh penting yang berperan sebagai transformator nilai-nilai Islam santri di desa tersebut). Maka tergeraklah hati H. Qosim seorang tokoh dari wilayah pengkol Jepara yang juga seorang aghniya` untuk membantu. Dibelinya sebidang tanah yang kemudian diwakafkan kepada masyarakat untuk kemudian dibangun sebuah Masjid di atasnya.
Akhirnya setelah melalui proses panjang dan berliku-liku. Karena ternyata cita-cita mulia tersebut banyak ditentang oleh orang-orang kejawen yang memang telah lama dianut oleh kebanyakan warga desa Sukodono. Keberadaan sebuah Masjid dianggap sebagai sebuah ancaman atas eksistensi dan kemapanan keyakinan kejawen tersebut.
Alhamdulillah, berkat pertolongan Allah SWT beberapa waktu kemudian Masjid tersebut secara gotong royong berhasil didirikan. Meski kondisi bangunan tersebut sebenarnya jauh dari layak untuk disebut sebuah Masjid, disebut sebuah Musholla mungkin itu lebih tepat. Karena begitu mungil dan sederhana bentuknya dan hanya terbuat dari papan.
Namun kondisi tersebut tidak menghalangi para aktivis dakwah saat itu untuk memaksimalkan fungsinya.
Keadaan seperti itu berlangsung hingga beberapa tahun, sampai pada suatu ketika pada sekitar tahun 1976 ada kunjungan dari anggota DPRD Tingkat II Kabupaten Jepara ke desa Sukodono, yang dipimpin oleh H. Muhammady dan H. Mubin. Kesempatan tersebut tidak disia-siakan oleh Madikun untuk menyampaikan aspirasinya. Bahwa Masjid di Sukodono sangat perlu uluran tangan untuk memperbaiki kondisi bangunannya. Para anggota dewan tersebut setelah mengetahui secara langsung, benar-benar merasa prihatin dan berusaha membantu masyarakat untuk memugar Masjid tersebut menjadi lebih baik. Kebetulan pendopo kabupaten saat itu juga sedang direnovasi, dimana akhirnya kayu-kayu dan bahan-bahan lainnya yang sudah tidak digunakan, dialihfungsikan untuk pemugaran Masjid Nurul Huda. Wal hasil...terwujudlah sebuah masjid "baru" yang lebih baik dari keadaan sebelumnya.
Alhamdulillah...meski pelan namun pasti, para aktivis dakwah dan masyarakat pendukungnya dengan penuh kesabaran dapat memfungsikan Masjid yang sederhana tersebut secara optimal dan sebagai mana mestinya. Yaitu sebagai tempat ibadah dan pengembangan dakwah. Tanpa segan-segan para aktivis dan masyarakat pendukungnya meminta dukungan kepada tokoh-tokoh di desa sekitarnya, seperti Langon, Mantingan dan pengkol untuk turut serta membantu melakukan pembinaan dan pengembangan dakwah di Masjid Nurul Huda tersebut. Kemajuan demi kemajuan semakin terasa dan syiar Islampun semakin semarak. Hingga pada akhirnya semakin banyak saja masyarakat yang tadinya apatis kemudian mau menerima sentuhan dakwah Islam.
Pada tahun 1993 muncul sebuah kesadaran baru, masyarakat merasakan bahwa kondisi Masjid Nurul Huda saat itu sangat kurang layak. Terutama apabila dibandingkan dengan kondisi Masjid-masjid di kampung sekitarnya. Maka disepakatilah sebuah rencana pemugaran. Kali ini sangat berbeda, semangat kebersamaan dan kegotong- royongan segenap lapisan masyarakat begitu nampak. Para pemuda pun tidak ketinggalan bahu membahu dengan para sesepuh menggalang dana secara swadaya murni dengan penuh semangat dan keikhlasan. Proses panjang pemugaran yang begitu melelahkan namun mengharukan ini berakhir, ketika pada tahun 1996 telah resmi berdiri sebuah Masjid berlantai dua yang cukup megah. Dimana pada saat ini di Masjid tersebut telah terdapat sebuah Madrasah Diniyah, Majelis Taklim dan kegiatan-kegiatan lainnya.
Semoga jerih payah para pejuang pendahulu yang dimotori oleh Madikun dan kawan-kawan serta segenap warga masyarakat yang telah mendukung berdirinya Masjid Nurul Huda tersebut, baik berupa pikiran, tenaga dan harta mendapatkan balasan sebaik-baiknya di sisi Allah SWT berupa keridho`an-Nya dan Pahala yang terus-menerus mengalir hingga hari kiamat kelak. Amin...Allahumma Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar