Senin, 31 Mei 2010

TERHENTINYA LANGKAH FUTUHAT ISLAM DI EROPA


Kisah tentang ghanimah (harta rampasan perang) dalam sejarah kita, merupakan cerita yang asing. Yang lebih asing lagi adalah pelajaran tentang awal kekalahan yang disebabkan oleh ghanimah. Karena kekalahan itu, kita harus menelan pil pahit, atas terlumat habisnya kegemilangan pembebasan (Futuhat) yang penah kita capai. Kisah Ghanimah merupakan rekaman sejarah kekalahan Islam.

Komandan Islam pertama adalah Rasulullah SAW. Para pasukan pemanah yang ditempatkan di atas bukit Uhud, menyalahi komando yang telah beliau berikan. Mereka takut tidak mendapat ghanimah. Yah...bukit Uhud itu, menjadi saksi atas gugurnya 70 syuhada`, putra terbaik Islam.
Komandan pertempuran terakhir adalah Abdurrahman Al-Ghafiqi, panglima yang memimpin pasukan besar terakhir, untuk menaklukkan gunung Barnes di Prancis, dan kemudian menyusup ke jantung Eropa. Al-Ghafiqi dikalahkan. Ia mati syahid dalam peristiwa Bilath Al-Syuhada (negeri para Syuhada`) salah satu peristiwa sejarah yang abadi dan menentukan. Cita-cita kaum Muslimin untuk menaklukkan Eropa pun menjadi pudar, juga diakibatkan oleh faktor yang sama -Ghanimah- yang telah disinggung di awal tulisan ini.

Semenjak Islam telah kokoh di Maghrib dan di Spanyol, kaum Muslimin bercita-cita menaklukkan gunung Barnes dan daerah sekitarnya. Demikian pula cita-cita Musa bin Nushair. Meski Khalifah Walid bin Abdul Malik khawatir kalau-kalau Musa bin Nushair akan banyak mencelakakan kaum Muslimin di medan yang belum dikenal ini. Kemudian ia berpikir untuk mengangkat Al-Samah bin Malik Al-khulani, gubernur Andalusia pada 100-102 H. Al-Samah datang menghadap dan diangkat menjadi penguasa Septimania (salah satu daerah pegunungan ang membentang di laut putih yang membelah perancis selatan). Dengan demikian, Al-Samah melintasi gunung Barnes. Ia tiba di Prancis kemudian menikung ke barat, daerah muara sungai Gardano, dengan menguasai wilayah-wilayah yang dilewatinya selama perjalanan, hingga ia sampai di Thoulouse (sebuah kawasan di Prancis). Namun ia tidak mampu bertahan di situ. Al-Samah terbunuh. Sisa pasukannyapun akhirnya diambil alih oleh Abdurrahman Al-Ghafiqi, salah seorang komandannya.

Gubernur baru setelah Al-Samah, `Anbasah bin Suhaim Al-Kalbi pun menuju Eropa. Walaupun berubah rute perjalanan dan berhasil tiba di Autan, suatu daerah di atas pegunungan Rondha. Namun ia tidak waspada karena tidak mempercayai rute perjalanan pulang, sehingga ia terbunuh. Pasukannyapun kembali ke Arbantes di wilaah Septimania.

Abdurrahman Al Ghafiqi adalah pribadi yang penuh semangat dan punya tekat membaja untuk mengusai Eropa. Dadanya dipenuhi oleh ruh iman. Ia ingin membuat perhitungan atas peristiwa - peristiwa sebelumnya yang menimpa kaum Muslimin. Ketika Al-Samah terbunuh dan pasukanna kembali ke Septimania. Al-Ghafiqi mengumandangkan panggilan untuk berjihad di seluruh Andalusia dan Afrika. Panggilannya ini mendapat sambutan hangat, berduyun - duyun sukarelawan dari berbagai tempat datang dan bergabung dengan pasukan Al-Ghafiqi sebelumnya.

Kaum Muslimin bertemu dengan pasukan Kristen di Tours dan Poiters di dekat Paris. Pertempuran dahsyat pun terjadi selama hampir 7 hari. Pasukan Perancis memang jauh lebih besar jumlahnya dibanding kaum Muslimin. Tetapi kaum Muslimin mampu bertahan dan nyaris meraih kemenangan. Kalau saja persoalan Ghanimah tidak muncul ke permukaan.

Pasukan Kristen tahu, bahwa kaum Muslimin mengangkut sejumlah besar ghanimah, hasil rampasan dari berbagai pertempuran di tengah-tengah perjalanan mereka antara cordova sampai Poiters.
Ghanimah ini begitu berat membebani punggung kaum Muslimin. Di satu pihak, sudah menjadi kebiasaan orang-orang Arab untuk membawa serta ghanimah mereka di belakang pasukan dengan dikawal oleh pasukan khusus. Paukan Kristen memahami betul kelemahan ini. Mereka berhasil memukul kaum Muslimin dengan memfokuskan diri pada titik rawan ini. Mereka menyerang kaum Muslimin dari belakang. Menghantam pasukan pengawal yang bertugas menjaga ghanimah ini. Kaum Muslimin tidak menyadarai taktik pasukan kristen, sehingga sebagian dari mereka berjuang untuk mengamankan ghanimah. Akibatnya, paukan kaum Muslimin terbelah dua. Sebagian berkonsentrasi untuk menyelamatkan ghanimah, sedangkan yang lain bertempur melawan pasukan kristen dari depan.

Walaupun sia-sia, Abdurrahman Al-Ghafiqi berusaha untuk menyatukan kembali pasukan Islam. Sayang serangan anak panah mencederai dirinya, di saat ia berjuang mati-matian. Ia gagal. Kini, kaum Muslimin tanpa komandan. Dalam kondisi demikian, pasukan kristen menyerang kaum Muslimin dari segala arah, hingga banyak sekali yang menemui syahidnya.

Bilath Syuhada` pada tahun 114 H, merupakan langkah terakhir Islam menuju Eropa. Gerak maju pun terhenti. Sebab kemilau materi mengalahkan sinar iman.


Orang-orang yang bergelut ingin meraih "ghanimah" tidak mungkin berhasil mengangkat panji akidah dan peradaban Islam. Prinsip ini berlaku selamanya, sampai kapanpun...
Wallahu a`lam.
(disarikan dari buku, Dirasah li suquthi tsalatsiina daulah Al-Islamiyah. Oleh : Dr. Abdul Halim `Uwais)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar